Kamis, 19 Juli 2007

Meraih Hidayah Allah

Oleh : KH. Abdullah Gymnastiar

Pernah ada seseorang yang matanya ditutup, disuruh berjalan akhirnya menangis. Mengapa? Karena setiap langkahnya penuh dengan keraguan, ia merasa setiap langkahnya selalu beresiko, mungkin terpeleset atau tubuhnya membentur dinding.
Begitulah kira-kira, kalau kita tidak mendapatkan cahaya dalam hidup ini, lalu bagaimana kalau hati kita tidak mendapatkan cahaya kebenaran?

Orang yang tidak mendapatkan hidayah dari Allah, hidup ini terasa lelah, takut, tegang, was-was, cemas, gelisah dan bingung. Orang yang jauh dari agama, dari Alquran apapun yang diberikan Allah kepadanya pasti hanya akan membuat dirinya hina.

Harta, gelar, pangkat, jabatan atau penampilan yang diberikan Allah, kalau tidak diiringi dengan ketaatan kepada Allah pasti akan menyiksa. Hidupnya hiruk-pikuk, rebutan, sikut sana sini, tidak peduli aturan dan etika.

Tetapi kalau kita mendapat hidayah dari Allah, seperti berjalan diterang benderang. Mantap, tidak ada ketakutan pada mereka dan tidak pernah bersedih hati, dia tidak panik dengan dunia ini. Tapi dia aakan merasa galau kalau tidak mampu meyempurnakan apa yang bisa ia lakukan.

Memang, disamping tetap istiqamah dalam meraih hidayah Allah, kitapun harus tetap memanjatkan doa karena langkah awal untuk meraih hidayah ini adalah dengan terus mencari ilmu sekuat tenaga. Karena makin banyak ilmu, maka makin produktif dalam beramal dan makin bening hati kita. Semoga Allah menjaga kita dari dicabutnya nikmat yang mahal, yaitu hidayah.

Abu Dzar fil Qarnil Khamis 'Asyar

Dalam sebuah syair yang berjudul Abu Dzar fil Qarnil Khamis 'Asyar (Abu Dzar di Abad Lima Belas Hijrah), saya sebutkan tentang ketersisngn AbuDzar, tentang kebahagiaannya, tentang kesendiriannya dan tentang kehidupannya yang menjauh dari masyarakat demi jiwa dan prinsip-prinsipnya. Di situ ia akan berbicara tentang dirinya sendiri :

Mereka bersikap lembut kepadaku namun aku kaeras,
mereka keras dengan kematian, kubalas dengan lembut hingga aku merasa.
Mereka menaikkanku dalam kendaraan, namun aku turun dan menaiki tekadku.
Mereka turunkan aku, namun aku naik kebenaran yang sama.
kuusir kematian didepanku lalu dia berpaling,
dan aku lewati kematian sedang terkantuk-kantuk.
Pasir-pasir telah menangisi kesendiriannya dan berkata,
Abu Dzar, jangan jagan takut dan jangan berputus asa
Kukatakan, tak takut, sebab keyakinanku masih belia,
aku takkan mati hingga aku diinjak.
Aku telah berjanji kepada sahabat dan teman karib,
dan kau belajar dari cita-citanya.

Apakah Kebaikan Itu ?

"Jadilah engkau ibarat seorang terasing atau seorang yang numpang lewat saja" (Al- Hadits)
"Maka beruntunglah orang-orang yang ter asing" (Al-Hadits)
Kebahagiaan itu bukan istan yang super mewah dan megah, bukan pula pasukan yang paling kuat di bumi ini, bukan juga rumah mewah yang lengkap dengan fasilitas dan pernakpernik didalamnya. juga bukan pula harta simpanan si Qorun, juga bukan yang ada di dalam buku Asy Syifa karya Ibnu Sina, juga bukan pula dalam syair (diwan) Al-Mutanabbi ataupun taman Cordoba ataupun kebun-kebun bunga yang lainnya.

Kebahagian menurut para Shohabat Nabi adalah sesuatu yang tidak banyak menyibukkan, kehidupan yang sangat sederhana, dan penghasilan yang pas-pasan.

Kebahagiaan itu menurut Ibnu Musayyib adalah pemahamannya terhadap Rabb-nya, menurut Al-Bukhori Shahih-nya, menurut Al- Hasan Al Bashriy kejujurannya, menurut Malik kehati-hatiannya, menurut Ahmad ibn Hanbal sikap wara'-nya dan menurut Tsabit Al-Bunani adalah ibadahnya.

{Yang demikian itula ialah mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan dan kelaparan pada jalan Allah, dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan sesuatu becana kepada musuh, melainkan ditulis bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal sholih}
(QS. At-Taubah : 120)

Kebahagian itu tidak terletak pada cek yang dicairkan, tidak pula kendaraan yang dibeli, bukan pula wangi bunga yang semerbakpukan pada beras yang melimpah dan bukan pula pada kain yang dibentangkan.

Kebahagian itu keringat hati, karena kebahagian yang dihayati. kebahagiaan adalah kelapangan dada, karena prinsip yang mejadi pedoman hidup. Juga kebahagiana adalah ketenangan hati, keran kebahagiaan di kelilinginnya.

Aggapan kita apabila telah berhasil memperluas rumah, ketika telah bisa mengumpulkan banyak barang, dan ketika telah bisa menumpuk perabotan dan apa saj yang kita senangi, kita akan bahagia, senang, dan gembira. Semuai itu justru menjadikan jiwa resah.tertekan dan hanya menambah masalah. kareana bagaimanapun segalasesuatu akan membawa keresahan, kesuntukan dan pajak yang harus dikeluarkannya untuk mendapatkannya.

{Dan, janganlah kamu tunjukkan kedua matamu kepada apa yang telah kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami cobai mereka dengannya}
(QS. Thaha: 131)

Seorang Reformis terbesar, ternyata pernah hidup dalam kefakiran, sering membolak-balikkan tubuhnya di tempat tidur karena kelaparan. Disaat seperti itu, tak sebiji kurmapun ditemukan untuk menahan rasa laparnya. Meski denmikian, ia bisa hidup bahagia tak banyak tekanan dan damai. Tapi hanya Allah lah yang tau dengan kebenaran ini.

{dan kami telah hilangkan daripadamu beban bebab yang memberatkan punggungmu}
(QS. Al-Insyirah: 2-3)
{Dan, adalah karunia Allah atasmu sangat besar}
(QS. An-Nisa : 113)
{Allah lebih mengetahui dimana Dia menempatkan tugas kerasulan.}
(QS. Al-An'am: 124)

Dalam sebuah hadist sahih disebutkan : "Kebaikan itu adalah akhlak yang baik, sedangkan dosa adalah apa yang di dalam dadmu, dan engkau tidak suka oranglain tahu hal itu."

Dan, kebaikan adalah kelegaan di hati dan ketenangan di jiwa. Ada seorang penyair mengatakan,

Kebaikan itu jauh lebih lestari walaupun zaman telah berlalu lama,
tetapi dosa adalah sejelek-jelek bekal yang engkau simpan,


Dalam hadist yang lain di sebutkan : " kebaikan itu mendatangkan ketenangan, sedangkan dosa menimbulkan kecurigaan." Terus terang, orang yang berbuat baik akan selalu tenag, sedangkan yang curiga akan selalu sibuk ingin tahu apa yang terjadi, apa yang terdetik didalam hati orang, benda apa saja yang bergerak dan segalanya.

{Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan ditujukan kepada mereka}
(QS. Al Munafiqun :4)

Mengapa ? karena mereka berbuat tidak baik. Adalah kenyataan bahwa orang yang berbuat tidak baik akan selalu resah, pikirannya ruwet, dan tidak pernah tenag karena takut.

jika perbuatan itu buruk, maka buruk pulalah prasangkanya,
dan yang biasanya dia anggap sebagai khayalan adalah benar.


Berbuat baik dan mejaukan segala keburukan adalah jalan bagi yang menginginkan kebahagian, untuk bisa tetap berbuat baik dalam rasa aman.
{Orang-orang yang beriman dan tidak mencapuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka ialah orang-orang yang mendapat kemanan dan mereak adalah orang-orang yang mendapat petunjuk}
(QS. Al-An'am : 82)

Seorang penunggang kuda menghela kudanya dengan kendang hingga debu beterbangan di atas kepalanya. ia hanya ingin melihat Sa'ad ibn Abi Waqqash yang saat itu sedang mendirikan kemahnya di tengah-tengah padang pasir jauh dari ingar-bingar dan jaur dari perhatian orangorang . Didalam kemah itu ia sendiri, jauh dari keluarganya, hanya ditemani beberapa rkor kambing. Si pengunggang kuda itu pun mendekati kemah. Ternyata ia adalah anaknya, Umar. Si anak itu kemudian menghiba kepada bapaknya, "Ayahanda, orang-orang sedang berebut kekuasaan, tapi engkau telah menggembala kambing."

Sa'ad si ayah, " Aku berlindung kepada Allah dari keburukan dirimu. Sesungguhnya, aku lebih berhak memegang jabatan kholifah daripada aku hidup dengan selendang yang menggantung di tubuh ini. Namun aku pernah mendengar Rassullulah bersabda : "sesungguhnya Allah sangat menyenangi seorang hamba yang kaya, yang takwa, dan yang tidak menonjolkan diri."

Kemurniaan kualitas agama seseorang muslim jauh lebih agung daripada kerajaan Kaisar Romawi Maupun kisra Persi. agamalah yang akan selalu bersamanya hingga nanti di surga. tetapi kekuasan dan kedudukan, akan sirna.

{Sesungguhnya, Kami mewarisi bumidan s emua yang ada di atasnya hanya kepada Kamilah mereka di kembalikan.}
(QS. Maryam : 40)

Jumat, 15 Juni 2007

Pikirkanlah lalu Sukurilah

Ingatlah setiap nikmat yang Allah anugrahkan kepada Kita.
Karena Dia telah melimpahkan nikmat-Nya dari ujung rambut hingga ke bawah kedua telapak kaki
{jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan sanggup menghitungnya}

(QS.Ibrahim: 34)


Kesehatan badan, keamanan negara, sandang pangan, udara dan air semuanya tersedia dalam kehidupan kita. Namun begitulah, kita memiliki dunia, tetapi tidak pernah menyadarinya, Kita menguasai kehidupan, tetapi tak pernah mengetahuinya.
{dan, Dia menyempurnakan nikmat-Nya kepadamu lahir dan batin.}

(QS. Lukaman : 20)

Apakah kita mengira bahwa, berjalan dengan kedua kaki itu sesuatu yang sepele, sedangkan kaki acapkali menjadi bengkak bila di gunakan jalan terus menerus tiada henti ? Apakah kita mengira berdiri tegak di atas kedua betis itu sesuatu yang mudah, sedangkan keduanya bisa saja tidak kuat dan suatu ketika patah?

Maka sadarilah, betapa hinanya diri kita manakala tertidur lelap, ketika sanak saudara di sekitar kita masih banyak yang tidak bisa tidur karena sakit yang mengganggunya?
pernahkah kita merasa nista manakala dapat menyantap makanan lezat dan minuman dingin saat masih banyak orang di sekitar kita yang tidak bisa makan dan minum karena sakit?

Mari kita pikirkan, betapa besarnya fungsi pendengaran, yang dengannya Allah menjauhkan Anda dari ketulian. Coba renungkan dan raba kembali mata kita yang tidak buta. Ingatlah dengan kulit kita yang terbebas penyakit lepra dan supak. dan renungkanlah dahsyatnya fungsi otak kita yang selalu sehat dan terhindar dari kegilaan yang menghinakan.

adakan keinginan kita untuk menukat mata kita dengan emas 24 karat seberat gunung uhud. ataupun menukarkan pendengaran kita dengan perak seberat bukit? Apakah kita mau membeli istana-istana yang megah dengan lidah kita hingga kita bisu? maukan kita menukat kedua tangan kita dengan untaian mutiara, sementara tangan kita buntung?

Begitulah sebenarnya kita berada diantara kenikmatan tiada tara dan kesempurnaan tubuh, namun kita tidak menyadarinya. kita tidak merasa resah, suntuk, sedih, dan gelisah. meskipun anda sudah mempunya nasi hangat untuk disantap, air yang segar untuk di teguk, waktu yang tenang untuk tidur dengan pulas serta kesehatan untuk terus berbuat.

kita acapkali memikirkan sesuatu yang tidak ada, sehingga kita pun lupa mensykuri yang sudah ada. jiwa kita mudah terguncang hanya kerugian materi yang mendera. Padahal, sesunguhnya kita masih memegang kunci keberhasilan, memiliki jembatan pengantar kebahagiaan, karunia, kenikmatan dan lain sebagainya. maka pikirkanlah semua itu dan kemudian bersyukurlah...!
{Dan, pada dirimu sendiri, maka, apakah kamu tidak memperhatikan.}

(QS. Adz-Dzariyat:21)


Pikirkan dan renungkan apa yang ada pada diri kita, keluarga, rumah, pekerjaan, kesehatan dan apasaja yang tersedia di sekeliling kita.

Danjanganlah kita termasuk golongan
{Mereka mengetahui nikmat Allah, kemudian mereka mengingkarinya.}

(QS. An-Nahl: 83)

Di ambil dari
buku La Tahzan
DR.
'Aidh al-Qarni

Rabu, 13 Juni 2007

INDAHNYA KEJUJURAN

Refleksi menyambut datangnya Ramadhan.

Tak terasa bulan yang kita nantikan teryata datang juga dan syukur kita panjatkan pada Allah yang masih berkenan memberi kita kesempatan untuk menghirup udara ramadhan yang segar ini . Di bulan ramadhan ini setiap muslim menjadikan suatu bulan untuk peningkatan ibadah dan muamalah pada Allah , kita dapat melihat di segala penjuru dunia dan plosok tanah air , baik di masjid , mushola atau surau pasti akan penuh dengan jama ‘ah , hal ini menandakan bahwa bulan ramadhan adalah bulan yang paling mulia dan berharga untuk dilewatkan bagi umat islam terutama orang beriman . Salah satuhal atau aktivitas yang diwajibkan oleh Allah pada orang – orang yang beriman adalah puasa , Allah mensyariatkan puasa dengan tujuan akhir agar orang iman menjadi orang yang bertakwa dengan sebenarnya .

Dalam dunia realita teryata untuk mencapai drajat ketakwaan tersebut bukan suatu hal yang mudah semudah membalik telapak tangan , seorang mu’min yang melakukan kewajiban puasa tersebut harus bisa menjadikan semua aktivitas tubuh terhindar dari kemaksiatan agar puasanya menjadi puasa yang bernilai dihadapan Allah . Salah satu hal yang dilarang untuk dilakukanbagi seorang yang berpuasa adalah berbohong . berbohong adalah hal yang amat dibenci oleh Alah sekaligus menjadikan puasa seseorang tidak bernilai dihadapan Allah . Dalam hal ini Allah pernah berfirman dalam kitabnya surat Al ahzab ayat 70 – 71 ,” Hai orang – orang yang beriman bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar , niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan – amalanmu dan mengampuni bagimu dosa – dosamu . Dan barang siapa menaati Allah dan Rosul –Nya , maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenagan yang besar “. Allah mengisyaratkan dan memberikan seruan yang cukup jelas pada orang –orang yang beriman , bagaimana orang beriman dianjurkan untuk mengatakan sesuatu yang benar itu benar . Kebenaran dan kejujuran merupakan sesuatu yang cukup mahal harganya apalagi apabila dilihat pada kondisi realita sekarang ini , untuk mencari suatu kebenaran dan kejujuran seperti mencari mutiara di ladang lumpur yang begitu luas .

Disetiap aspek kehidupan saat ini kejujuran dan kebenaran adalah suatu hal yang amat langka , bagaimana kondisi disektor hukum dan politik yang amat memprihatinkan . Kasus bom bali yang berimbas sampai pada penangkapan ustadz Abu bakar ba’asyir merupakan bukti awal sulitnya mencari kebenaran di negeri yang mayoritas penduduknya muslim ini . Memang sudah sepantasnyalah jika Allah membebankan kata kebenaran itu hanya pada golongan orang tertentu yaitu orang beriman . sejarah telah membuktikan bagaimana komitmen orang – orang beriman terhadap Allah dan Rosul – Nya . Sebuah pertanyaan besar yang harus kita jawab adalah apakah kita ini termasuk golongan orang – orang yang ada dalam ayat diatas , hal ini dapat kita lihat dari sikap dan tingkah laku kita dilapangan. Allah memberikan jaminan pada orang - orang beriman yang berkata benar dan jujur tersebut dengan sebuah keindahan yang tak pernah bisa ternilai dengan materi . Allah akan senantiasa membimbing dan meluruskan amalan orang yang jujur , alang kah indahnya dalam hidup yang sebentar ini penguasajagad raya yang Maha Perkasa membimbing seorang hamba- Nya yang lemah ini . Dalam tiap aktivitas tidak pernah terbersit rasa khawatir dan was- was karena hanya Allah penolong sekaligus tujuan hidupnya . Hidup dan bergaul degan orang yang jujur suatu hal yang begitu indah , segala sesuatun yang dikerjakan dan dilakukan tidak pernah menyinggung dan menykiti hati saudaranya . Rosulullah adalah seorang anak manusia yang aklaknya begitu menawan , beliau digelari kaumnya “al amin “ karena kejujuran beliau , padahal kita tahu bagaimana moralitas dan sikap kaumnya pada Rosulullah Muhammad SAW akan tetapi memang suatu kebenaran itu akan tetap terlihat indah

Jaminan kedua yang diberikan oleh Allah pada orang yang beriman yang berkata benar adalah akan diampuninya dosa yang telah dikerjakan , suatu maghfirah Allah yang begitu besar yang diberikan pada hamba – Nya yang dikehendaki . Diakhir ayat Allah menjamin sebuah kemenangan besar yang menjadi harapan setiap manusia di muka bumi ini yaitu cinta dan ridho Allah yang tentunya adalah surga – Nya . Dibulan ramadhan ini kita dapat meningkatkan potensi dan keimanan pada Allah , agar tujuan pemberian tugas dari Allah pada umat manusia benar – benar menjadi kebaikan hamba – Nya di muka bumi ini . Ada beberapa hal yang harus di cermati dan dilakukan untuk menjadi orang yang seperti apa yang diharapkan pada ayat diatas :

1 . Menjadikan Allah sebagai tujuan

seseorang dalam setiap aktivitas akan senantiasa kebali atau berorientasi pada tujuan awal dia beraktvitas artinya manusia melakukan kegiatan akan dimotivasi dan digerakan oleh landasan awal. Jika seorang muslim menjadikan Allah sebagai tujuan maka segala aktivitas akan terpusat dan tertuju pada mardhatillah , karena bagi seorang muslim tiada kenindahan kecuali kindahan bersama Allah . Dalam tiap langkah yang diambil akan senantiasa menggunakan parameter al quran dan as sunah .Amin rais dalam bukunya “Tauhid social “pernah mengatakan bahwa salah satu konsekuensi syahadatain adalah jika orang tersebut menjadikan Al quran dan As sunah sebagai standar penilaian , begitu juga dalam hal kebenaran standar yang digunakan tentunya bukan hanya standar penilaian manusia yang kita tahu bahwa itu adalah standar yang sangat relatif

2 .Komitmen

Seorang muslim dalam ucapan dan perbuatan setelah diketahui itu suatu kebenaran maka ia perlu kekomitmenan , ini merupakan suatu hal yang paling mendasar yang harus dimiliki dan ditanamkan dalam hati seorang muslim .Dalam dunia dakwah komitmen merupakan factor penting untuk menuju kesuksesan dakwah tersebut , kita ingat betul bagaimana Rosulullah dalam berdakwah yang menghabiskan waktu begitu lama dan menghadapi rintangan yang luar biasa tetapi , potret sejarah telah membuktikan kekomitmenan beliau dalam berdakwah dan teryata islam yang di bawa beliau sampai juga pda kita dan itu sekali lagi karena sebuah kekomitmenan . Jika kita melihat kondisi saat ini terutama dikalangan elit politik , terkesan begitu mudah dalam merubah kertas putih menjadi hitam dan begitu juga sebaliknya , dalam hal ini Allah juga mengingatkan kita dengan ayatnya “ Hai orang – orang beriman mengapa engkau mengatakan sesuatu yang tidak engkau lakukan . Amat besar kebencian disisi Allah pada orang yang mengatakan tetapi tidak melakukannya “ As shaf ( 2-3 ) .Ayat ini cukup jelas memberikan gambaran pada kita ancaman Allah pada orang yang mengatakan apa yang tidak di kerjakan artinya setelah kita berkata maka hendaknya kita dapat melaksanakan perkataan itu sehingga disini perlu suatu kekomitmenan antara ucapan dan perbuatan, contoh lain dilapangan yang harus kita lihat adalah saat kita sedang berpuasa , kita berniat untuk menahan diri dari hal- hal yang membatalkannya dari mulai menjelang fajar sampai nanti maghrib dan itu perlu tekad dan komitmen agar puasa kita dapat berhasil , sehingga komitmen hal penting yang harus kita miliki dalam hidup ini

3 .Muhasabah

Dalam aktivitas hidup ini kadang – kadang perlu untuk berhenti sejenak sekenar untuk melihat kembali bekal yang kita bawa atau mungkin hanya menghirup napas sebentar , boleh jadi bekal yang kita bawa akan habis di tengah jalan sebelum sampai tujuan karena tempat penyimpan bekal kita bocor atau bahkan bekal kita habis di ambil orang .Untuk sampai tujuan dengan selamat kita kadang kita perlu bekal yang berlebih , untuk menghindari kebocoran tadi maka dalam aktivitas kita perlu adanya muhasabah atau mengoreksi kembali niat kita , aktivitas kita , perjalanan kita .

Hidup ini hanya sebentar jika kita tidak berhati – hati maka telah ada lubang besar yang akan menanti kita , evaluasi terhadap kebenaran perbuatan kita adalah yang amat penting karena hal itu akan dapat memberikan pencerahan dan warna baru dalam aktivitas kita sekaligus perubahan yang cukup mendasar , hal terbaik yang harus kita lakukan di waktu luang kita adalah merenungi telah berapa banyak dosa yang telah kita perbuat dan telah berapa banyak hati saudara kita yang telah kita sakiti , karena dengan muhasabah diri tidak ada waktu sedikitpun untuk aktivitas kemaksiatan . Ada dua hal yang harus kita perhatikan dalan koreksi diri , Pertama : Lupakan semua kebaikan orang lain pada kita , hal itu tidak akan membuat kita ujub ( Sombong ) dengan kebaikan yang telah kita lakukan tetapi hal ini akan membuat kita merasa kekurangan dalam bebuat kebaikan . Kedua : Ingatlah selalu dosa kita pada orang lain , hal ini akan membuat kita selalu berislah dan menutupi dosa – dosa itu dengan kebaikan . Di bulan ramadhan ini adalah momen yang tepat untuk mengislah tiap individu karena di bulan ini Allah menurunkan rahmat dan ampunannya pada hamba – hamba –Nya yang mau bersungguh – sungguh , boleh jadi bulan ini bbulan ramadhan terakhir kita dan kebaikan terakhir kita , oleh karena itu tekadkan azzam rapatkan barisan dan luruskan niat untuk menggapai kemenangan sejati dibulan yang suci ini.

MENGGAPAI CINTA RASULULLAH

Dari Anas radhiallahu anhu , dari Nabi shallallahu alaihi wasalam , bahwasanya beliau shallallahu alaihi wasalam bersabda:

"Tidaklah (sempurna) iman salah seorang di antara kalian sehingga aku lebih dicintainya daripada orangtuanya, anaknya dan segenap umat manusia." (Muttafaq Alaih)

.Kecintaan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasalam adalah perintah agama. Mengekspresikan cinta kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasalam haruslah sesuai tuntunan agama. Dengan mengacu pada hadits shahih di atas, mari kita membahas poin-poin berikut ini: Kewajiban cinta kepada Rasul shallallahu alaihi wasalam , kenapa harus cinta Rasul shallallahu alaihi wasalam ?, apa tanda-tanda cinta Rasul shallallahu alaihi wasalam ?, bagaimana agar mencintai Rasul shallallahu alaihi wasalam ?

1. Kewajiban Cinta Rasul shallallahu alaihi wasalam

Dalam Shahih Al-Bukhari diriwayatkan, Umar bin Khathab radhiallahu anhu berkata kepada Nabi shallallahu alaihi wasalam :

"Sesungguhnya engkau wahai Rasulullah, adalah orang yang paling aku cintai daripada segala sesuatu selain diriku sendiri." Nabi shallallahu alaihi wasalam bersabda, 'Tidak, demi Dzat yang jiwaku ada di TanganNya, sehingga aku lebih engkau cintai dari dirimu sendiri'. Maka Umar berkata kepada beliau, 'Sekarang ini engkau lebih aku cintai daripada diriku sendiri.' Maka Nabi shallallahu alaihi wasalam bersabda, 'Sekarang (telah sempurna kecintaanmu (imanmu) padaku) wahai Umar."

Karena itu, kecintaan yang melebihi kecintaan kepada Nabi shallallahu alaihi wasalam maka belum sempurna imannya, dan ia belum bisa merasakan manisnya iman hakiki sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Anas radhiallahu anhu , dari Nabi shallallahu alaihi wasalam , beliau bersabda:

"Ada tiga perkara yang bila seseorang memilikinya, niscaya akan merasakan manisnya iman, 'Yaitu, kecintaannya pada Allah dan RasulNya lebih dari cintanya kepada selain keduanya......"

2. Kenapa Cinta Rasul shallallahu alaihi wasalam ?

Tidak akan mencapai derajat kecintaan kepada Rasul shallallahu alaihi wasalam secara sempurna kecuali orang yang mengagungkan urusan din (agama)nya, yang keinginan utamanya adalah merealisasikan tujuan hidup, yakni beribadah kepada Allah Ta'ala. Dan selalu mengutamakan akhirat daripada dunia dan perhiasannya.

Cinta Rasul shallallahu alaihi wasalam inilah dengan izin Allah menjadi sebab bagi kita mendapatkan hidayah (petunjuk) kepada agama yang lurus. Karena cinta Rasul pula, Allah menyelamatkan kita dari Neraka, serta dengan mengikuti beliau shallallahu alaihi wasalam kita akan mendapatkan keselamatan dan kemenangan di akhirat.

Adapun cinta keluarga, isteri dan anak-anak maka ini adalah jenis cinta duniawi. Sebab cinta itu lahir karena mereka memperoleh kasih sayang dan manfaat materi. Cinta itu akan sirna dengan sendirinya saat datangnya Hari Kiamat. Yakni hari di mana setiap orang berlari dari saudara, ibu, bapak, isteri dan anak-anaknya karena sibuk dengan urusannya sendiri. Dan barangsiapa lebih mengagungkan cinta dan hawa nafsunya kepada isteri, anak-anak dan harta benda duniawi maka cintanya ini akan bisa mengalahkan kecintaannya kepada para ahli agama, utamanya Rasul shallallahu alaihi wasalam .

3. Tanda-tanda Cinta Rasul shallallahu alaihi wasalam

Adapun tanda-tanda cinta sejati kepada Rasul shallallahu alaihi wasalam adalah:

a. Mentaati beliau shallallahu alaihi wasalam dengan menjalankan perintahnya dan menjauhi larangannya. Pecinta sejati Rasul shallallahu alaihi wasalam manakala mendengar Nabi shallallahu alaihi wasalam memerintahkan sesuatu akan segera menunaikannya. Ia tak akan meninggalkannya. Sebab kecintaannya kepada Nabi shallallahu alaihi wasalam lebih dari segala-galanya. Dan memang, pecinta sejati akan patuh kepada yang dicintainya.

Adapun orang yang dengan mudah-nya menyalahi dan meninggalkan perintah-perintah Nabi shallallahu alaihi wasalam serta menerjang berbagai kemungkaran maka pada dasarnya dia jauh lebih mencintai dirinya sendiri. Sehingga kita saksikan dengan mudahnya ia meninggalkan shalat lima waktu, padahal Nabi shallallahu alaihi wasalam sangat meng-agungkan perkara shalat, hingga ia diwasiatkan pada detik-detik akhir sakaratul mautnya.

b. Menolong dan mengagungkan beliau shallallahu alaihi wasalam . Ini telah dilakukan oleh para sahabat sesudah beliau wafat. Yakni dengan mensosialisasikan, menyebarkan dan mengagungkan sunnah-sunnahnya di tengah-tengah kehidupan umat manusia, betapapun tantangan dan resiko yang dihadapinya. . c.Tidak menerima sesuatupun perintah dan larangan kecuali apa yang datang dari beliau shallallahu alaihi wasalam , rela dengan apa yang beliau tetapkan, serta tidak merasa sempit dada dengan sesuatu pun dari sunnah-nya .

d. Mengikuti beliau shallallahu alaihi wasalam dalam segala halnya. Dalam hal shalat, wudhu, makan, tidur dsb. Juga berakhlak dengan akhlak beliau shallallahu alaihi wasalam dalam kasih sayangnya, rendah hatinya, kedermawanannya, kesabaran dan zuhudnya dsb.

e. Memperbanyak mengingat dan shalawat atas beliau shallallahu alaihi wasalam.

Sesuai dengan sabda Rosulullah :
"Barangsiapa bershalawat atasku sekali, niscaya Allah bershalawat atasnya sepuluh kali." (HR. Muslim).

f. Mencintai orang-orang yang dicintai Nabi shallallahu alaihi wasalam . Seperti Abu Bakar, Umar, Aisyah, Ali radhiallahu anhum dan segenap orang-orang yang disebutkan hadits bahwa beliau shallallahu alaihi wasalam mencintai mereka. Kita harus mencintai orang yang dicintai beliau dan membenci orang yang dibenci beliau shallallahu alaihi wasalam . Lebih dari itu, hendaknya kita mencintai segala sesuatu yang dicintai Nabi, termasuk ucapan, perbuatan dan sesuatu lainnya.

4. Bagaimana Agar Mencintai Nabi shallallahu alaihi wasalam ?

a. Hendaknya kita ingat bahwa Nabi shallallahu alaihi wasalam adalah orang yang paling baik kan dan paling berjasa kepada kita. Beliau lah yang mengeluarkan kita dari kegelapan kepada cahaya, yang menyampaikan agama dan kebaikan kepada kita, yang memperingatkan kita dari kemungkaran. Dan kalau bukan karena rahmat Allah yang mengutus beliau shallallahu alaihi wasalam , tentu kita telah tenggelam dalam kesesatan.

b. Renungkanlah perjalanan hidup Nabi shallallahu alaihi wasalam , jihad dan kesabarannya serta apa yang beliau korbankan demi tegaknya agama ini, dalam menyebar- tauhid serta memadamkan syirik, sungguh suatu upaya yang tidak bisa dijangkau oleh siapapun.

c. Renungkanlah keagungan akhlak Nabi shallallahu alaihi wasalam , sifat dan sikapnya yang sempurna, rendah hati kepada kaum mukminin dan keras terhadap orang-orang munafik dan musyrikin, pemberani, dermawan dan penyayang. Cukuplah sanjungan Allah atas beliau shallallahu alaihi wasalam :
"Dan sungguh engkau memiliki akhlak yang agung".

d. Mengetahui kedudukan beliau shallallahu alaihi wasalam di sisi Allah Ta'ala. Beliau shallallahu alaihi wasalam adalah orang yang paling mulia di antara segenap umat manusia, penutup para Nabi, yang diistimewakan pada hari Kiamat atas segenap Nabi untuk memberikan syafa'at uzhma (agung), yang memiliki maqam mahmud (kedudukan terpuji), orang yang pertama kali membuka pintu Surga serta berbagai keutamaan beliau lainnya. .