Oleh : KH. Abdullah Gymnastiar
Pernah ada seseorang yang matanya ditutup, disuruh berjalan akhirnya menangis. Mengapa? Karena setiap langkahnya penuh dengan keraguan, ia merasa setiap langkahnya selalu beresiko, mungkin terpeleset atau tubuhnya membentur dinding.
Begitulah kira-kira, kalau kita tidak mendapatkan cahaya dalam hidup ini, lalu bagaimana kalau hati kita tidak mendapatkan cahaya kebenaran?
Orang yang tidak mendapatkan hidayah dari Allah, hidup ini terasa lelah, takut, tegang, was-was, cemas, gelisah dan bingung. Orang yang jauh dari agama, dari Alquran apapun yang diberikan Allah kepadanya pasti hanya akan membuat dirinya hina.
Harta, gelar, pangkat, jabatan atau penampilan yang diberikan Allah, kalau tidak diiringi dengan ketaatan kepada Allah pasti akan menyiksa. Hidupnya hiruk-pikuk, rebutan, sikut sana sini, tidak peduli aturan dan etika.
Tetapi kalau kita mendapat hidayah dari Allah, seperti berjalan diterang benderang. Mantap, tidak ada ketakutan pada mereka dan tidak pernah bersedih hati, dia tidak panik dengan dunia ini. Tapi dia aakan merasa galau kalau tidak mampu meyempurnakan apa yang bisa ia lakukan.
Memang, disamping tetap istiqamah dalam meraih hidayah Allah, kitapun harus tetap memanjatkan doa karena langkah awal untuk meraih hidayah ini adalah dengan terus mencari ilmu sekuat tenaga. Karena makin banyak ilmu, maka makin produktif dalam beramal dan makin bening hati kita. Semoga Allah menjaga kita dari dicabutnya nikmat yang mahal, yaitu hidayah.
Kamis, 19 Juli 2007
Abu Dzar fil Qarnil Khamis 'Asyar
Dalam sebuah syair yang berjudul Abu Dzar fil Qarnil Khamis 'Asyar (Abu Dzar di Abad Lima Belas Hijrah), saya sebutkan tentang ketersisngn AbuDzar, tentang kebahagiaannya, tentang kesendiriannya dan tentang kehidupannya yang menjauh dari masyarakat demi jiwa dan prinsip-prinsipnya. Di situ ia akan berbicara tentang dirinya sendiri :
Mereka bersikap lembut kepadaku namun aku kaeras,
mereka keras dengan kematian, kubalas dengan lembut hingga aku merasa.
Mereka menaikkanku dalam kendaraan, namun aku turun dan menaiki tekadku.
Mereka turunkan aku, namun aku naik kebenaran yang sama.
kuusir kematian didepanku lalu dia berpaling,
dan aku lewati kematian sedang terkantuk-kantuk.
Pasir-pasir telah menangisi kesendiriannya dan berkata,
Abu Dzar, jangan jagan takut dan jangan berputus asa
Kukatakan, tak takut, sebab keyakinanku masih belia,
aku takkan mati hingga aku diinjak.
Aku telah berjanji kepada sahabat dan teman karib,
dan kau belajar dari cita-citanya.
Mereka bersikap lembut kepadaku namun aku kaeras,
mereka keras dengan kematian, kubalas dengan lembut hingga aku merasa.
Mereka menaikkanku dalam kendaraan, namun aku turun dan menaiki tekadku.
Mereka turunkan aku, namun aku naik kebenaran yang sama.
kuusir kematian didepanku lalu dia berpaling,
dan aku lewati kematian sedang terkantuk-kantuk.
Pasir-pasir telah menangisi kesendiriannya dan berkata,
Abu Dzar, jangan jagan takut dan jangan berputus asa
Kukatakan, tak takut, sebab keyakinanku masih belia,
aku takkan mati hingga aku diinjak.
Aku telah berjanji kepada sahabat dan teman karib,
dan kau belajar dari cita-citanya.
Apakah Kebaikan Itu ?
"Jadilah engkau ibarat seorang terasing atau seorang yang numpang lewat saja" (Al- Hadits)
"Maka beruntunglah orang-orang yang ter asing" (Al-Hadits)
Kebahagiaan itu bukan istan yang super mewah dan megah, bukan pula pasukan yang paling kuat di bumi ini, bukan juga rumah mewah yang lengkap dengan fasilitas dan pernakpernik didalamnya. juga bukan pula harta simpanan si Qorun, juga bukan yang ada di dalam buku Asy Syifa karya Ibnu Sina, juga bukan pula dalam syair (diwan) Al-Mutanabbi ataupun taman Cordoba ataupun kebun-kebun bunga yang lainnya.
Kebahagian menurut para Shohabat Nabi adalah sesuatu yang tidak banyak menyibukkan, kehidupan yang sangat sederhana, dan penghasilan yang pas-pasan.
Kebahagiaan itu menurut Ibnu Musayyib adalah pemahamannya terhadap Rabb-nya, menurut Al-Bukhori Shahih-nya, menurut Al- Hasan Al Bashriy kejujurannya, menurut Malik kehati-hatiannya, menurut Ahmad ibn Hanbal sikap wara'-nya dan menurut Tsabit Al-Bunani adalah ibadahnya.
{Yang demikian itula ialah mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan dan kelaparan pada jalan Allah, dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan sesuatu becana kepada musuh, melainkan ditulis bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal sholih}
Kebahagian itu tidak terletak pada cek yang dicairkan, tidak pula kendaraan yang dibeli, bukan pula wangi bunga yang semerbakpukan pada beras yang melimpah dan bukan pula pada kain yang dibentangkan.
Kebahagian itu keringat hati, karena kebahagian yang dihayati. kebahagiaan adalah kelapangan dada, karena prinsip yang mejadi pedoman hidup. Juga kebahagiana adalah ketenangan hati, keran kebahagiaan di kelilinginnya.
Aggapan kita apabila telah berhasil memperluas rumah, ketika telah bisa mengumpulkan banyak barang, dan ketika telah bisa menumpuk perabotan dan apa saj yang kita senangi, kita akan bahagia, senang, dan gembira. Semuai itu justru menjadikan jiwa resah.tertekan dan hanya menambah masalah. kareana bagaimanapun segalasesuatu akan membawa keresahan, kesuntukan dan pajak yang harus dikeluarkannya untuk mendapatkannya.
{Dan, janganlah kamu tunjukkan kedua matamu kepada apa yang telah kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami cobai mereka dengannya}
Seorang Reformis terbesar, ternyata pernah hidup dalam kefakiran, sering membolak-balikkan tubuhnya di tempat tidur karena kelaparan. Disaat seperti itu, tak sebiji kurmapun ditemukan untuk menahan rasa laparnya. Meski denmikian, ia bisa hidup bahagia tak banyak tekanan dan damai. Tapi hanya Allah lah yang tau dengan kebenaran ini.
{dan kami telah hilangkan daripadamu beban bebab yang memberatkan punggungmu}
Dalam sebuah hadist sahih disebutkan : "Kebaikan itu adalah akhlak yang baik, sedangkan dosa adalah apa yang di dalam dadmu, dan engkau tidak suka oranglain tahu hal itu."
Dan, kebaikan adalah kelegaan di hati dan ketenangan di jiwa. Ada seorang penyair mengatakan,
Kebaikan itu jauh lebih lestari walaupun zaman telah berlalu lama,
tetapi dosa adalah sejelek-jelek bekal yang engkau simpan,
Dalam hadist yang lain di sebutkan : " kebaikan itu mendatangkan ketenangan, sedangkan dosa menimbulkan kecurigaan." Terus terang, orang yang berbuat baik akan selalu tenag, sedangkan yang curiga akan selalu sibuk ingin tahu apa yang terjadi, apa yang terdetik didalam hati orang, benda apa saja yang bergerak dan segalanya.
{Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan ditujukan kepada mereka}
Mengapa ? karena mereka berbuat tidak baik. Adalah kenyataan bahwa orang yang berbuat tidak baik akan selalu resah, pikirannya ruwet, dan tidak pernah tenag karena takut.
jika perbuatan itu buruk, maka buruk pulalah prasangkanya,
dan yang biasanya dia anggap sebagai khayalan adalah benar.
Berbuat baik dan mejaukan segala keburukan adalah jalan bagi yang menginginkan kebahagian, untuk bisa tetap berbuat baik dalam rasa aman.
{Orang-orang yang beriman dan tidak mencapuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka ialah orang-orang yang mendapat kemanan dan mereak adalah orang-orang yang mendapat petunjuk}
Seorang penunggang kuda menghela kudanya dengan kendang hingga debu beterbangan di atas kepalanya. ia hanya ingin melihat Sa'ad ibn Abi Waqqash yang saat itu sedang mendirikan kemahnya di tengah-tengah padang pasir jauh dari ingar-bingar dan jaur dari perhatian orangorang . Didalam kemah itu ia sendiri, jauh dari keluarganya, hanya ditemani beberapa rkor kambing. Si pengunggang kuda itu pun mendekati kemah. Ternyata ia adalah anaknya, Umar. Si anak itu kemudian menghiba kepada bapaknya, "Ayahanda, orang-orang sedang berebut kekuasaan, tapi engkau telah menggembala kambing."
Sa'ad si ayah, " Aku berlindung kepada Allah dari keburukan dirimu. Sesungguhnya, aku lebih berhak memegang jabatan kholifah daripada aku hidup dengan selendang yang menggantung di tubuh ini. Namun aku pernah mendengar Rassullulah bersabda : "sesungguhnya Allah sangat menyenangi seorang hamba yang kaya, yang takwa, dan yang tidak menonjolkan diri."
Kemurniaan kualitas agama seseorang muslim jauh lebih agung daripada kerajaan Kaisar Romawi Maupun kisra Persi. agamalah yang akan selalu bersamanya hingga nanti di surga. tetapi kekuasan dan kedudukan, akan sirna.
{Sesungguhnya, Kami mewarisi bumidan s emua yang ada di atasnya hanya kepada Kamilah mereka di kembalikan.}
"Maka beruntunglah orang-orang yang ter asing" (Al-Hadits)
Kebahagiaan itu bukan istan yang super mewah dan megah, bukan pula pasukan yang paling kuat di bumi ini, bukan juga rumah mewah yang lengkap dengan fasilitas dan pernakpernik didalamnya. juga bukan pula harta simpanan si Qorun, juga bukan yang ada di dalam buku Asy Syifa karya Ibnu Sina, juga bukan pula dalam syair (diwan) Al-Mutanabbi ataupun taman Cordoba ataupun kebun-kebun bunga yang lainnya.
Kebahagian menurut para Shohabat Nabi adalah sesuatu yang tidak banyak menyibukkan, kehidupan yang sangat sederhana, dan penghasilan yang pas-pasan.
Kebahagiaan itu menurut Ibnu Musayyib adalah pemahamannya terhadap Rabb-nya, menurut Al-Bukhori Shahih-nya, menurut Al- Hasan Al Bashriy kejujurannya, menurut Malik kehati-hatiannya, menurut Ahmad ibn Hanbal sikap wara'-nya dan menurut Tsabit Al-Bunani adalah ibadahnya.
{Yang demikian itula ialah mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan dan kelaparan pada jalan Allah, dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan sesuatu becana kepada musuh, melainkan ditulis bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal sholih}
(QS. At-Taubah : 120)
Kebahagian itu tidak terletak pada cek yang dicairkan, tidak pula kendaraan yang dibeli, bukan pula wangi bunga yang semerbakpukan pada beras yang melimpah dan bukan pula pada kain yang dibentangkan.
Kebahagian itu keringat hati, karena kebahagian yang dihayati. kebahagiaan adalah kelapangan dada, karena prinsip yang mejadi pedoman hidup. Juga kebahagiana adalah ketenangan hati, keran kebahagiaan di kelilinginnya.
Aggapan kita apabila telah berhasil memperluas rumah, ketika telah bisa mengumpulkan banyak barang, dan ketika telah bisa menumpuk perabotan dan apa saj yang kita senangi, kita akan bahagia, senang, dan gembira. Semuai itu justru menjadikan jiwa resah.tertekan dan hanya menambah masalah. kareana bagaimanapun segalasesuatu akan membawa keresahan, kesuntukan dan pajak yang harus dikeluarkannya untuk mendapatkannya.
{Dan, janganlah kamu tunjukkan kedua matamu kepada apa yang telah kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami cobai mereka dengannya}
(QS. Thaha: 131)
Seorang Reformis terbesar, ternyata pernah hidup dalam kefakiran, sering membolak-balikkan tubuhnya di tempat tidur karena kelaparan. Disaat seperti itu, tak sebiji kurmapun ditemukan untuk menahan rasa laparnya. Meski denmikian, ia bisa hidup bahagia tak banyak tekanan dan damai. Tapi hanya Allah lah yang tau dengan kebenaran ini.
{dan kami telah hilangkan daripadamu beban bebab yang memberatkan punggungmu}
(QS. Al-Insyirah: 2-3)
{Dan, adalah karunia Allah atasmu sangat besar}(QS. An-Nisa : 113)
{Allah lebih mengetahui dimana Dia menempatkan tugas kerasulan.}(QS. Al-An'am: 124)
Dalam sebuah hadist sahih disebutkan : "Kebaikan itu adalah akhlak yang baik, sedangkan dosa adalah apa yang di dalam dadmu, dan engkau tidak suka oranglain tahu hal itu."
Dan, kebaikan adalah kelegaan di hati dan ketenangan di jiwa. Ada seorang penyair mengatakan,
Kebaikan itu jauh lebih lestari walaupun zaman telah berlalu lama,
tetapi dosa adalah sejelek-jelek bekal yang engkau simpan,
Dalam hadist yang lain di sebutkan : " kebaikan itu mendatangkan ketenangan, sedangkan dosa menimbulkan kecurigaan." Terus terang, orang yang berbuat baik akan selalu tenag, sedangkan yang curiga akan selalu sibuk ingin tahu apa yang terjadi, apa yang terdetik didalam hati orang, benda apa saja yang bergerak dan segalanya.
{Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan ditujukan kepada mereka}
(QS. Al Munafiqun :4)
Mengapa ? karena mereka berbuat tidak baik. Adalah kenyataan bahwa orang yang berbuat tidak baik akan selalu resah, pikirannya ruwet, dan tidak pernah tenag karena takut.
jika perbuatan itu buruk, maka buruk pulalah prasangkanya,
dan yang biasanya dia anggap sebagai khayalan adalah benar.
Berbuat baik dan mejaukan segala keburukan adalah jalan bagi yang menginginkan kebahagian, untuk bisa tetap berbuat baik dalam rasa aman.
{Orang-orang yang beriman dan tidak mencapuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka ialah orang-orang yang mendapat kemanan dan mereak adalah orang-orang yang mendapat petunjuk}
(QS. Al-An'am : 82)
Seorang penunggang kuda menghela kudanya dengan kendang hingga debu beterbangan di atas kepalanya. ia hanya ingin melihat Sa'ad ibn Abi Waqqash yang saat itu sedang mendirikan kemahnya di tengah-tengah padang pasir jauh dari ingar-bingar dan jaur dari perhatian orangorang . Didalam kemah itu ia sendiri, jauh dari keluarganya, hanya ditemani beberapa rkor kambing. Si pengunggang kuda itu pun mendekati kemah. Ternyata ia adalah anaknya, Umar. Si anak itu kemudian menghiba kepada bapaknya, "Ayahanda, orang-orang sedang berebut kekuasaan, tapi engkau telah menggembala kambing."
Sa'ad si ayah, " Aku berlindung kepada Allah dari keburukan dirimu. Sesungguhnya, aku lebih berhak memegang jabatan kholifah daripada aku hidup dengan selendang yang menggantung di tubuh ini. Namun aku pernah mendengar Rassullulah bersabda : "sesungguhnya Allah sangat menyenangi seorang hamba yang kaya, yang takwa, dan yang tidak menonjolkan diri."
Kemurniaan kualitas agama seseorang muslim jauh lebih agung daripada kerajaan Kaisar Romawi Maupun kisra Persi. agamalah yang akan selalu bersamanya hingga nanti di surga. tetapi kekuasan dan kedudukan, akan sirna.
{Sesungguhnya, Kami mewarisi bumidan s emua yang ada di atasnya hanya kepada Kamilah mereka di kembalikan.}
(QS. Maryam : 40)
Langganan:
Komentar (Atom)
