Rabu, 21 Oktober 2009

Rasa Malu


Rasa malu bagi seseorang merupakan daya kekuatan yang mendorongnya berwatak ingin selalu berbuat pantas dan menjauhi segala perilaku tidak patut. Orang yang memiliki watak malu adalah orang yang cepat menyingkiri segala bentuk kejahatan. Sebaliknya, yang tidak memiliki rasa malu berarti ia akan dengan tenang melakukan kejahatan, tidak peduli omongan, bahkan, cercaan orang lain. ''Anjing menggonggong kafilah tetap berlalu,'' begitu mottonya.

Islam menilai, watak malu itu merupakan bagian dari iman. Dengan demikian, orang yang tidak mempunyai rasa malu adalah orang yang hilang imannya. Orang hidup bermasyarakat sudah tentu harus mendengarkan apa kata masyarakat tentang dirinya. Masyarakat tak pelak lagi sebenarnya mengetahui apa yang dilakukan anggotanya. Masyarakat pula yang berhak mengoreksi apa-apa kelakuan yang tidak baik atau tak pantas anggotanya. Bagi yang tak punya malu, omongan atau koreksi masyarakat akan dianggapnya angin lalu.

Ada sebuah ungkapan warisan para nabi, yang menyatakan bahwa sudah rahasia umum, orang yang hilang perasaan malunya tak lain dari orang yang sudah terbiasa berbuat kemungkaran dan kemaksiatan dalam segala jenis dan bentuknya. Ia mau melakukan kejahatan, kelaliman dan kekejian.

Rasulullah bersabda: ''Sesungguhnya, yang dapat diambil sebagai pelajaran dari para nabi terdahulu ialah, apabila kamu sudah tidak mempunyai perasaan malu maka berbuatlah semaumu;'' riwayat Imam Bukhari dan Muslim. Itu berarti, orang yang demikian sulit untuk mau mawas diri, meski berhadapan dengan umpatan dan kecaman orang banyak pun.

Berdasar riwayat Ibnu Umar, Rasulullah bersabda: ''Sesungguhnya Allah yang Maha Mulia dan Maha Agung, bila berkehendak menjatuhkan seseorang maka Allah cabut dari orang itu rasa malunya. Ia hanya akan menerima kesusahan (dari orang banyak yang marah kepadanya). Melalui ungkapan kemarahan itu, hilang pulalah kepercayaan orang kepadanya.

Bila kepercayaan kepadanya sudah hilang maka ia akan jadi orang yang khianat. Dengan menjadi khianat maka dicabutlah kerahmatan dari dirinya. Bila rahmat dicabut darinya maka jadilah ia orang yang dikutuk dan dilaknati orang banyak. Dan bila ia menjadi orang yang dilaknati orang banyak maka lepaslah ikatannya dengan Islam.'' (Copy Paste : http://www.republika.co.id/berita/82131/Rasa_malu )

Selasa, 20 Oktober 2009

Pentingnya dakwah

`Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) berbuat baik, dan cegahlah dari kemungkaran dan bersabarlah atas apa-apa yang menimpamu. Sesungguhnya hal itu adalah urusan yang diutamakan.` (Q.s. Lugman:17)
Ayat ini menyebutkan dengan jelas beberapa hal terpenting bagi seorang muslim, yang menjadi penyebab tercapainya kebahagian yang sempurna. Sayangnya, kita justru melalaikannya. Telah dinyatakan sebelumnya bahwa kewajiban amar ma`ruf nahi mungkar sudah hampir ditinggalkan, bahkan perintah Sholat sebagai amalan yang terpenting setelah imam juga seduah banyak dilalaikan. Banyak kaum muslimin yang sama sekali tidak melaksanakan sholat. Ada yang sholat, tetapi tidak memperhatikannya dengan sempurna, terutama sholat berjamaah. Padahal, dengan sholat berjamaan dikatakan sebagai menegakkan sholat. Pada umumnya, orang-orang miskin saja yang sholat berjamaah di mesjid, sedangkan orang-orang kaya dan para tokoh merasa hina jika sholat di mesjid. Kepada Allah swt. Sajalah kita mengadu. Sebuah syair menyatakan
Wahai insane yang lalai
Apa yang menjadi kehinaan bagi mu, adalah kebanggaan bagiku

Ayat ke lainnya
`Dan hendaklah ada diantara kalian segolongan umat yang mengajak (manusia) kepada kebaikan, menyeru kepada yang ma`ruf dan mencegah kemungkaran, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung,` (Q.s. Ali `Imran:104)
Dalam ayat ini,Allah dengan tegas memerintahkan umat islam agar dapat mewujudkan suatu umat yang mendakwahkan Islam ke seluruh dunia. Namun sayang, secara umum kita telah melalaikan perintah ini. Sebaliknya, orang-orang non-muslim justru sangat memperhatikannya, misalnya para misionaris Kristen, mereka siap menyebarkan agama mereka ke seluruh dunia dengan sungguh-sungguh. Begitu pula agama lainnya, mereka menyiapkan para penyebar agamanya. Namun adakah dikalangan umat islam suatu jamaah yang berusaha demikian? Jawabannya tidak ada. Kalaupun ada jamaah muslim atau pribadi yang berusaha mentablighkan islam, bukan bantuan dan kerjasama yang diterima, tetapi yang diperoleh adalah berbagai halangan dan kritikan. Begitu bertubi-tubi rintangan ini, akhirnya para mubaligh berputus asa dan meninggalkan dakwah yang mulia ini. Sebenarnya, kewajiban terpenting setiap muslim ialah membantu siapa saja yang benar-benar mentablighkan islam dan memperbaikinya bila salah. Tetapi ia sendiri justru tidak melakukannya, bahkan para mubaligh ia jadikan sebagai sasaran kritik seolah-olah ingin menghentikan mereka.
Ayat ke-6
`Kalian adalah sebaik-baik umat yang dilahirkan bagi manusia, kalian menyuruh (berbuat) kebaikan dan mencegah kemungkaran, dan kalian beriman kepada Allah.` (Q.s. Ali `Imran:110).
Banyak hadist Rasulullah saw. Yang menerangkan bahwa umat Islam adalah umat yang termulia diantara umat lainya. Dan banyak pula ayat Al-Qur`an yang menyatakan demikian, baik dengan jelas maupun dengan isyarat. Dalam ayat diatas, Allah swt. Telah memuliakan kita sebagai umat yang terbaik. Dan Allah swt. Telah menyebutkan syaratnya, yaitu selama kita berdakwah mengajak umat ini kepada kebaikan dan mencegah mereka dari kemungkaran. Para ahli tafsir mengatakan bahwa dalam ayat ini, kalimat amar ma`ruf nahi mungkar disebutkan lebih dahulu daripada imam kepada Allah. Padahal, iman adalah pangkal segala amalan. Tanpa Iman, kebaikan apapun tidak akan bernilai sedikitpun di sisi Allah. Hal ini terjadi karena imam juga dimiliki oleh umat terdahulu, tetapi ada suatu amalan khusus yang menjadikan umat Muhammad saw. Lebih unggul dibandingkan kaum-kaum sebelumnya, yaitu tugas amar mak`ruf nahi mungkar. Inilah penyebab umat Muhammad saw. Lebih istimewa daripada umat lainnya. Meskipun demikian, imam tetap ditekankan dalam ayat ini, karena amal apapun tidak akan bernilai tanpa iman.
Dan maksud utama ayat tersebut adalah menyebutkan pentingnya amar ma`ruf nahi mungkar bagi umat ini. Oleh karena itu ia disebutkan terlebih dahulu daripada ima. Maksudnya ada amar ma`ruf nahi mungkar sebagai sesuatu yang menjadikan umat ini lebih unggul adalah, hendaknya umuat ini memperhatikan secara khusus, sehingga bertabligh secara sambil lalu tidak memenuhi syarat. Sebab tabligh sebagai tugas tambahanpun sudah ada pada umat-umat sebelumnya, sebagaimana firman Allah swt. `Ketika mereka lalai dari mengingatkan` Peringatan seperti ini banyak disebutkan dalam ayat-ayat lainnya. Jadi kelebihan umat ini terletak pada perhatian khusus dalam dakwah. Oleh sebab itu, hendaklah dakwah dilaksanakan sebagai pekerjaan yang pokok sebagaimna kerja-kerja agama atau unia lainnya.

Rabu, 16 September 2009

Berhasilkah puasa kita?

Ini aku Copy paste dari Maillis tetangga [M_S] kiriman teman Tuesday, September 15, 2009 11:15 PM Berhasilkah puasa kita?

Bismi l-lahi r-rahmani r-rahiem.

Kita sudah berada dalam hari-hari terakhir dalam "perjalanan" puasa kita. Sudah sepantasnyalah kita melihat-lihat sejauh mana nyatanya yang telah kita capai dalam berpuasa. Jika kita renungkan kembali "sasaran" puasa yang telah ditetapkan Allah SWT dalam ayat yang terkait dengan perintah berpuasa (Qur'an Surah al-Baqarah [2] ayat 183), kita dapat memperhitungkan hasil rangkaian ibadah dalam bulan puasa ini: TAQWA. Selanjutnya kita dapat mengajukan pertanyaan kepada diri kita sendiri: "Seberapa baik taqwa kita sekarang?" Secara jujur kita mungkin akan menjawab membaik, tetap, ataupun bahkan berkurang; semuanya mungkin dengan berbagai macam dalihnya. Namun Allah tak dapat dikibuli; puasa memang hanya Allah yang dapat memberi nilai. Walaupun demikian, tak salah jika kita mencoba menilai diri sejauh mana kriteria taqwa dalam Qur'an surah Ali 'Imran [3] ayat 133-136 berikut ini telah kita penuhi:

DAN BERSEGERALAH KAMU KEPADA AMPUNAN DARI TUHANMU DAN KEPADA SYURGA YANG LUASNYA SELUAS LANGIT DAN BUMI YANG DISEDIAKAN UNTUK ORANG-ORANG YANG BERTAKWA, (YAITU) ORANG-ORANG YANG MENAFKAHKAN (HARTANYA), BAIK DI WAKTU LAPANG MAUPUN SEMPIT, DAN ORANG-ORANG YANG MENAHAN AMARAHNYA DAN MEMAAFKAN (KESALAHAN) ORANG.

ALLAH MENYUKAI ORANG-ORANG YANG BERBUAT KEBAJIKAN.

DAN (JUGA) ORANG-ORANG (YANG BERTAQWA ITU ADALAH ORANG) YANG APABILA MENGERJAKAN PERBUATAN KEJI ATAU MENGANIAYA DIRI SENDIRI, (KEMUDIAN) MEREKA INGAT AKAN ALLAH, LALU MEMOHON AMPUN TERHADAP DOSA-DOSA MEREKA.

DAN SIAPA LAGI YANG DAPAT MENGAMPUNI DOSA SELAIN ALLAH?

DAN MEREKA (YANG BERTAQWA ITU) TIDAK LAGI MENERUSKAN PERBUATAN KEJINYA ITU, KARENA MEREKA MENGETAHUI. MEREKA (ORANG-ORANG YANG BERTAQWA) ITU BALASANNYA IALAH AMPUNAN DARI TUHAN MEREKA DAN SYURGA YANG DI DALAMNYA MENGALIR SUNGAI-SUNGAI, DAN MEREKA KEKAL DI DALAMNYA; DAN ITULAH SEBAIK-BAIK PAHALA ORANG-ORANG YANG BERAMAL.

Jika Allah memberi kita umur panjang, memang masih ada kesempatan yang dapat kita gunakan dengan benar untuk peningkatan lagi derajat taqwa kita. Insya Allah.

Semoga Allah menerima upaya kita untuk meningkatkan diri dalam bertaqwa.

Wa l-Lahu a'lamu bi sh-shawwab

SAW. = shalla 'l-Lahu 'alaihi wa sallam (Semoga shalawat Allah dan salamNya terlimpahkan pada Rasulullah Muhammad).

SWT. = subhanahu wa ta-'ala (Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi kedudukanNya) .

*** Kutipan ayat-ayat diperoleh dari penelusuran menggunakan software sederhana: "Indeks Terjemah Qur'an".